Saturday, February 24, 2018

Suami sebagai Servant Leader

Sabtu, 24 Februari 2018

BACAAN NDC BIBLE STUDY
Lukas 11

AYAT HAFALAN
Efesus 5:25

RENUNGAN INSPIRASI
Dalam sebuah keluarga, suami memiliki beberapa peranan: penyedia (provider), pengajar (teacher), pelindung (protector) dan pemimpin (leader). Semua ini adalah hal yang penting, tetapi kita akan fokus pada peran suami sebagai pemimpin, khususnya sebagai Servant Leader. Saat suami dapat berperan sebagai seorang Servant Leader, maka ini akan meningkatkan peranan yang lainnya dan juga memperkuat pernikahan dan keluarganya. Sebaliknya, saat suami melepaskan perannya sebagai seorang pemimpin maka pernikahan dan keluarganya berpotensi mengalami masalah. Hubungan suami-isteri akan mengalami ketegangan, anak-anak tidak dapat bertumbuh dalam potensi maksimal mereka. Dalam banyak kasus, hal ini bahkan menimbulkan kepahitan dalam keluarga. Kabar buruknya adalah banyak pasangan yang terlambat menyadari hal ini dan hubungan mereka sudah mulai berantakan.

Allah telah memanggil dan meneguhkan suami sebagai kepala dalam keluarga dan ini berarti menjadi seorang pemimpin yang melayani bagi isteri dan anak-anak. Peranan sebagai pemimpin ini adalah tanggung jawab yang harus diambil setiap suami dengan serius dan penuh kerendahan hati. Dalam 1 Korintus 11:3, rasul Paulus mengingatkan bahwa, “Kepala dari tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.” Rasul Paulus membandingkan kepemimpinan laki-laki (suami) dengan Yesus, dan Yesus adalah teladan terbaik bagi suami untuk menjadi seorang Servant Leader. Untuk menjadi kekasih yang baik, suami harus mengasihi, melayani dan rela berkorban bagi isteri dan anak-anaknya agar mereka dapat bertumbuh dalam segala hal mencapai potensi maksimal mereka. (HS)

HIKMAT HARI INI
I am a husband who prays for my wife, leads her boldly, serves her humbly, and cherishes her deeply. – Fierce Marriage

Thursday, February 22, 2018

Membangun Pernikahan di Atas Batu Karang

Kamis, 22 Februari 2018

BACAAN NDC BIBLE STUDY
Lukas 9

AYAT HAFALAN
Mazmur 127:1

RENUNGAN INSPIRASI
Hari-hari ini, iblis sedang giat-giatnya menyerang pernikahan dan keluarga. Anda mungkin berkata, “Pernikahan kami sudah berusia lebih dari 20 tahun, kami sudah saling memahami satu sama lain.” Saya ingin tegaskan bahwa tidak ada pernikahan yang kebal atas serangan iblis. Berapa pun usia pernikahan Anda dan apa pun status Anda, bila Anda tidak membangun pernikahan Anda di atas dasar yang benar, maka pernikahan Anda sedang berada di bawah ancaman serangan iblis. Dalam Matius 7:24-27, Tuhan Yesus mengajarkan tentang dua macam dasar. Di sana diumpamakan ada dua orang yang membangun rumah di atas dua dasar yang berbeda. Yang seorang membangun di atas batu karang, sementara yang lainnya di atas pasir. Ketika angin, hujan dan banjir sama-sama melanda kedua rumah ini (lihat Matius 7:25,27), keduanya mengalami akhir yang berbeda. Pengajaran ini juga berlaku untuk pernikahan.

Allah mengurapi pernikahan agar menjadi indah, dan melalui pernikahan, Allah akan menunjukkan kuasa-Nya pada dunia. Sebagai suami-isteri, Anda harus menutup pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam pernikahan Anda dan Anda harus menempatkan Yesus sebagai Tuhan atas pernikahan Anda. Suami harus berkata kepada isteri, “Bagimu, Yesus harus lebih penting daripada saya.” Dan isteri pun harus berkata demikian kepada suami. Ini terlihat mudah, tetapi dibutuhkan kesungguhan untuk dapat mewujudkannya dalam pernikahan Anda. Camkanlah bahwa jika Yesus tidak menjadi yang terutama dalam pernikahan Anda, maka Dia tidak akan pernah menjadi bagian dalam keluarga Anda. Anda boleh memiliki kekayaan, tetapi bila Anda tidak memiliki Kristus, maka kekayaan itu tidak akan menjadi berkat. Anda mungkin memiliki pendidikan yang tinggi atau pekerjaan yang baik, bahkan jabatan yang tinggi, tetapi bila Anda tidak memiliki Kristus dalam hidup Anda dan keluarga Anda, maka semua itu pada akhirnya tidak akan berarti apa-apa di mata Tuhan. Oleh karena itu, bangunlah pernikahan Anda di atas batu karang. Bangunlah di atas dasar kebenaran firman Tuhan dan jadikan Yesus sebagai Tuhan dan Kepala. Dengan demikian Anda memiliki pernikahan yang tidak akan tergoyahkan. Angin, hujan dan banjir boleh melanda pernikahan Anda, tetapi itu semua tidak akan merubuhkannya. (HS)

HIKMAT HARI INI
Ingatlah untuk selalu menempatkan Tuhan menjadi yang terutama dalam pernikahan dan keluarga Anda, karena dimana ada Kristus dasar pernikahan Anda akan tetap kokoh.

Wednesday, February 21, 2018

Allah Membenci Perceraian

Rabu, 21 Februari 2018

BACAAN NDC BIBLE STUDY
Lukas 8

AYAT HAFALAN
Maleakhi 2:16

RENUNGAN INSPIRASI
Pernikahan bukanlah suatu kondisi yang harus Anda tanggung dengan terpaksa. Ada banyak orang yang berusaha untuk bertahan dalam pernikahan mereka hanya karena tekanan sosial dan tidak ingin anak-anak menjadi korban perceraian mereka. Yang terjadi adalah mereka hidup dalam kondisi perang dingin, mereka hidup satu atap, tetapi tidak ada komunikasi, apalagi cinta dan keintiman. Mereka hidup dalam suasana perceraian di balik tirai pernikahan. Keadaan ini biasanya dipicu oleh salah satu pihak yang menyatakan, “Aku tidak mencintaimu lagi.” Mereka mengatakan bahwa cinta itu sudah hilang. Yang sesungguhnya terjadi adalah bukan cinta itu telah hilang, tetapi mereka tidak mengizinkan cinta itu mengalir dalam diri mereka. Jika saja kita mengerti kasih Allah yang tidak bersyarat dan kasih Allah itu ada dalam diri kita, maka kita akan dapat memutuskan untuk mengizinkan cinta itu terus mengalir dalam diri kita.
Allah membenci perceraian karena 2 (dua) alasan: (1) Perceraian adalah pelanggaran terhadap kesepakatan yang melibatkan Allah di dalamnya. Seperti telah dikemukakan pada renungan sebelumnya bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian (covenant) yang melibatkan tiga pihak (suami, isteri dan Allah). Bahkan sebenarnya bukan tiga pihak yang terlibat di dalamnya, tetapi dua. Karena suami dan isteri adalah satu. (2) Perceraian menyerang dan mempengaruhi benih Ilahi. Akibat yang nyata dari sebuah perceraian adalah dampaknya pada anak-anak. Anak-anak adalah benih Ilahi yang Tuhan tanamkan dalam keluarga Anda, dan perceraian merusak benih itu. Anak-anak adalah hasil dari apa yang terjadi dalam keluarga. Sekali Anda menanam bibit perceraian dalam pernikahan Anda, maka iblis akan menyuburkannya. Oleh sebab itu, coretlah kata “perceraian” dari kamus pernikahan Anda, cabutlah hingga ke akar-akarnya. Jangan biarkan hal ini menjadi pintu gerbang bagi iblis untuk membawa kutuk ke dalam keluarga Anda. Datanglah kepada Tuhan dalam doa, mohon kekuatan dan pimpinan-Nya agar Anda dapat mematahkan kutuk perceraian itu. Allah dapat membawa Anda dan pasangan Anda kembali bersatu dalam pernikahan yang penuh cinta, karena Allah memiliki rencana yang indah bagi setiap pernikahan. Dia ingin menjadikan pernikahan dan keluarga Anda tempat untuk saling berbagi, saling mencintai dan saling melayani satu sama lain di dalam kuasa Roh Allah. (HS)

HIKMAT HARI INI
Pernikahan bukanlah 50-50. Perceraianlah yang 50-50. Pernikahan harus 100-100. Pernikahan bukanlah tentang membagi segala sesuatunya sama rata, tetapi tentang memberi segala sesuatu yang Anda punya. – Dave Willis

Tuesday, February 20, 2018

Apa yang Selama Ini Anda Tabur?

Selasa, 20 Februari 2018

BACAAN NDC BIBLE STUDY
Lukas 7

AYAT HAFALAN
Galatia 6:7

RENUNGAN INSPIRASI
Setiap pernikahan pasti mengalami tantangan. Kita harus belajar dari setiap tantangan yang datang dalam pernikahan kita. Apa yang telah kita lalui selama beberapa hari ini bertujuan untuk membantu kita semua untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, bukan untuk mencegah atau menghilangkannya. Ukuran dari cinta dalam pernikahan adalah ketekunan, bukan kesempurnaan. Anda dapat memastikan bahwa pasti ada saja hal yang tidak berjalan sesuai dengan harapan Anda di dalam pernikahan. Pasangan Anda bisa saja menjadi orang yang tidak menyenangkan bagi Anda, bahkan Anda pun bisa menjadi tidak menyenangkan bagi pasangan Anda. Itu sebabnya penting bagi Anda untuk selalu melibatkan Allah, Sang Pencipta dan Perancang Pernikahan itu, dalam membangun keintiman Anda berdua.

Ada saatnya mungkin Anda tergoda untuk melirik rumput tetangga yang lebih hijau itu, tetapi perlu Anda ketahui bahwa rumput tetangga lebih hijau karena disirami dan diberi pupuk. Firman Tuhan mengatakan bahwa Anda akan menuai apa yang Anda tabur. Jika selama ini Anda menabur ketidaksabaran, keegoisan, kebohongan dan penipuan dalam pernikahan Anda, maka sudah bisa Anda perkirakan apa yang akan Anda tuai. Oleh karena itu, ambillah waktu sejenak untuk mengevaluasi perjalanan yang telah Anda lakukan beberapa terakhir ini bersama pasangan Anda. Apa yang selama ini Anda tabur dalam pernikahan Anda? Bagaimana rangkaian renungan Journey of Love ini mengubah Anda? Dan apa rencana Anda bagi pernikahan Anda ke depan? Tetaplah percaya dan milikilah ketekunan dalam kasih sayang terhadap pasangan Anda, karena itu akan membuat seluruh hidup Anda diberkati Tuhan. (HS)

HIKMAT HARI INI
A good marriage is one which allows for change and growth in the individuals and in the way they express their love.
– Pearl S. Buck

Monday, February 19, 2018

The Power of Forgiveness

Senin, 19 Februari 2018

BACAAN NDC BIBLE STUDY
Lukas 6

AYAT HAFALAN
Matius 6:12

RENUNGAN INSPIRASI
Mengapa rasanya lebih mudah untuk mengampuni orang lain dibanding pasangan kita sendiri? Jawabnya adalah kedekatan. Kita tidak hidup bersama orang lain, kita tidak pernah mendapati meletakkan pakaian kotor seenaknya, atau lupa memadamkan lampu, atau membiarkan rambutnya yang rontok berceceran di wastafel. Memaafkan orang yang jauh dari kita akan lebih mudah untuk dilakukan, tetapi untuk orang yang dekat akan terasa begitu sulit. Kita cenderung menyimpan kesalahan pasangan kita daripada memaafkan, karena hal itu memberi perasaan menang. Dalam pernikahan Anda tidak seharusnya berpikir menang kalah. Karena Anda berdua adalah satu di hadapan Tuhan. Bila salah satu pihak menang, maka Anda berdua menang. Bila salah satu pihak kalah, maka Anda berdua kalah. Menyimpan kesalahan pasangan Anda adalah keegoisan yang bertopengkan rasa berkuasa. Pengampunan adalah kekuatan yang sesungguhnya dan pengampunan melepaskan kuasa. Kita harus mulai belajar untuk mengampuni pasangan kita dari kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukannya, sebelum itu semua semakin menumpuk dan menjadi besar. Ada kalanya kita diperhadapkan pada suatu pelanggaran yang sungguh serius dan kita harus belajar untuk mengampuni. Ya, benar, yang saya maksudkan adalah tentang pengkhianatan, perilaku adiktif (kecanduan) pada sesuatu, bahkan perselingkuhan.
Mengampuni kesalahan seperti ini bukanlah hal yang mudah. Bahkan membangun kembali pernikahan Anda setelah terjadi kehancuran, bagaikan berusaha untuk menempelkan kembali kepingan vas yang pecah berantakan. Namun percayalah, Tuhan sanggup memulihkan bila Anda berdua mau membawa pernikahan Anda yang hancur ke hadapan Tuhan. Rasa percaya itu dapat dibangun kembali, bahkan pasangan yang dapat saling mengampuni dan mengalami pemulihan, seringkali memiliki keintiman yang lebih dalam dari sebelumnya. Apakah Anda masih menyimpan kesalahan yang pernah dilakukan pasangan Anda? Firman Tuhan dalam Efesus 4:32 mengatakan, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Pernikahan yang kuat dibangun oleh dua pribadi yang saling mengampuni. Periksalah apakah ada akar kepahitan yang masih tersisa dalam pernikahan Anda. Bila masih ada, datanglah kepada Tuhan, mohon kekuatan-Nya agar Anda dapat saling mengampuni dan melupakan apa yang ada di belakang Anda. Tataplah masa depan pernikahan Anda dan pastikan tidak ada lagi akar pahit di antara Anda berdua. (HS)

HIKMAT HARI INI
Tidak ada kasih tanpa pengampunan, dan tidak ada pengampunan tanpa kasih. – Bryant H. McGill

Sunday, February 18, 2018

Jebakan Keuangan dalam Pernikahan

Minggu, 18 Februari 2018

BACAAN NDC BIBLE STUDY
Lukas 5

AYAT HAFALAN
Amsal 22:7

RENUNGAN INSPIRASI
Hari-hari ini, banyak keluarga yang hidup dari gaji sebulan ke gaji berikutnya, sebagian besar penghasilan mereka dihabiskan untuk membayar hutang yang cukup besar setiap bulan. Ini adalah hal yang sangat berbahaya. Coba bayangkan apa yang terjadi bila tiba-tiba Anda kehilangan sebagian penghasilan atau bila ada anggota keluarga yang sakit keras dan membutuhkan biaya. Kebangkrutan sudah mengintip pernikahan Anda! Adalah lebih baik hidup sederhana dengan apa yang Anda miliki, meskipun itu berarti Anda tidak dapat memiliki “barang” tertentu. Survei membuktikan bahwa memiliki banyak harta tidaklah membuat kita semakin bahagia. Jadi apabila Anda harus berhutang untuk memiliki sesuatu, cobalah untuk berpikir ulang, pikirkan dua atau tiga kali dan berdoalah, apakah Anda sungguh-sungguh membutuhkan barang tersebut. Apalagi bila hal itu menyebabkan Anda memiliki hutang dalam jumlah yang cukup besar. Hutang itu seperti kanker: akan semakin parah hari lepas hari, hingga Anda memutuskan untuk menyingkirkannya dengan serius.
Aturan emas dalam pengelolaan keuangan keluarga adalah jangan pernah membelanjakan lebih dari yang Anda butuhkan. Usahakanlah untuk menghindari hutang dalam bentuk apa pun, sebelum Anda akhirnya “dipaksa” bekerja untuk membayar hutang-hutang Anda. Buatlah perencanaan keuangan yang baik dan patuhi kesepakatan yang telah Anda buat bersama dalam rencana keuangan Anda. Selain hal ini menghindarkan Anda dari jerat hutang, merencanakan keuangan bersama-sama juga akan membuat Anda terhindar dari perselisihan yang berkaitan dengan uang. Masalah finansial dapat mengganggu keintiman dalam pernikahan meskipun Anda berdua saling mencintai. Memiliki banyak uang atau tidak memiliki banyak uang adalah sebuah masalah, namun ada hal yang lebih dalam yang harus menjadi perhatian kita dibanding hanya banyak atau sedikitnya uang yang kita miliki. Masalah itu adalah bagaimana kita dapat belajar untuk menggunakan uang kita sesuai dengan kemampuan finansial kita. Prinsip memperlakukan “uangku” sebagai “uang kita” dan menyusun perencanaan keuangan keluarga akan menolong Anda berdua untuk mengurangi, bahkan menghilangkan perselisihan yang tidak perlu tentang uang, serta terhindar dari jerat hutang. Yang terpenting lagi adalah Anda akan semakin memiliki keintiman finansial dalam pernikahan. (HS)

HIKMAT HARI INI
Terlalu banyak orang yang menghabiskan uang yang belum mereka peroleh, untuk membeli sesuatu yang mereka tidak inginkan, dengan tujuan untuk memamerkannya pada orang yang tidak mereka suka. – Will Rogers

Saturday, February 17, 2018

Uangku = Uangmu = Uang Kita

Sabtu, 17 Februari 2018

BACAAN NDC BIBLE STUDY
Lukas 4

AYAT HAFALAN
Ibrani 13:5

RENUNGAN INSPIRASI
Survei membuktikan bahwa perselingkuhan bukanlah penyebab terbesar dari perceraian. Penyebab terbesar dari perceraian adalah masalah keuangan. Bagaimana cara Anda dan pasangan Anda mengelola isu yang sensitif ini akan menentukan tingkat keintiman dalam pernikahan Anda. Meskipun dalam janji nikah sudah dikatakan, “…saat kaya maupun miskin…”, tapi masih banyak suami-isteri yang tidak mengetahui bagaimana mengelola keuangan mereka. Anda berdua harus memiliki pandangan yang sama terlebih dahulu, yaitu bahwa uang Anda dan uangnya adalah uang bersama. Ini adalah sebuah prinsip rasa percaya (trust). Bila Anda tidak dapat mempercayai pasangan Anda tentang uang, maka Anda juga tidak akan dapat mempercayai pasangan Anda untuk hal lainnya. Salah satu ujian terberat dalam pernikahan adalah ketika Anda mengizinkan pasangan Anda untuk memiliki pengetahuan dan akses yang penuh terhadap penghasilan Anda dan harta Anda. Inilah yang disebut dengan keterbukaan finansial dalam pernikahan.

Anda berdua harus memiliki komitmen untuk membangun keintiman finansial Anda. Sebab ketika Anda berdua saling percaya secara penuh, maka Anda sedang menghidupi janji nikah Anda secara utuh. Ketika ada rasa percaya dan keintiman finansial Anda meningkat, maka Anda berdua akan masuk ke dalam tingkatan yang lebih dalam lagi dari hubungan Anda. Bagaimana Anda dapat melakukan hal ini secara konkrit? Ada beberapa contoh yang dapat Anda lakukan, seperti: terbuka kepada pasangan Anda mengenai penghasilan Anda, selalu berdiskusi dalam membelanjakan uang Anda berdua dan usahakan ada kesepakatan ketika akan melakukan pengeluaran yang cukup besar, dan lain sebagainya. Ingatlah, ada pepatah yang mengatakan, “Uang adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang kejam.” Jadikanlah uang sebagai hamba bagi keluarga Anda, bukan sebagai tuan. (HS)

HIKMAT HARI INI
Ada pasangan yang bertengkar karena tidak punya uang, sementara pasangan yang lain bertengar karena terlalu banyak uang.