Tuesday, December 25, 2007

Ulasan Kitab Hagai

Latar Belakang

Masa tawanan selama 70 tahun di Babel telah habis. Pada tahun 538 SM, Raja Koresy dari Persia mengeluarkan maklumat mengizinkan orang Yahudi buangan untuk kembali ke negeri mereka untuk membangun kembali Yerusalem dan Bait Suci. Di bawah pimpinan Zeruzabel, rombongan orang Yahudi pertama yang kembali ke Yerusalem meletakkan dasar Bait Suci yang baru pada tahun 536 SM. Namun setelah 16 tahun pembangunan belum juga selesai. Orang-orang Yahudi lebih mementingkan urusan duniawi mereka sendiri.
Pada tahun 520 SM, Hagai (kata Hagai berarti “pesta” atau “festival”), dengan ditemani nabi Zakharia yang lebih muda, mulai mendorong Zerubabel dan umat itu untuk melanjutkan pembangunan Bait Suci. Empat tahun kemudian Bait Suci itu selesai dibangun dan ditahbiskan.

Tujuan

Sepanjang waktu empat bulan pada tahun 520 SM, Hagai memberitakan empat berita singkat yang tercatat dalam kitab ini. Berita ini bertujuan ganda:

  1. untuk menasihati Zerubabel (gubernur) dan Yoshua (imam besar) agar mengerahkan umat itu untuk membangun kembali Bait Suci, dan
  2. untuk memotivasi umat itu agar menata kembali hidup dan prioritas mereka untuk melanjutkan tugas mereka secara sungguh-sungguh dengan berkat Tuhan.

Berita

Kitab Hagai ini berisi empat berita, yang masing-masing dibuka dengan "firman Tuhan" (Hag 1:1; Hag 2:2; Hag 2:11; Hag 2:21).

  1. Hagai pertama-tama memarahi para mantan buangan itu karena lebih memperhatikan rumah mereka sendiri yang dipapani dengan baik sedangkan Bait Suci masih merupakan reruntuhan (Hag 1:4). Dua kali nabi Hagai menasihati mereka untuk "perhatikanlah keadaanmu!" (Hag 1:5,8), yang menunjukkan bahwa Tuhan telah menarik berkat-Nya dari mereka karena cara hidup mereka (Hag 1:6,9-11). Sebagai tanggapan atas perkataan Hagai, maka Zerubabel, Yosua, dan semua orang itu takut akan Tuhan dan melakukan pekerjaan (Hag 1:12). Hagai lalu menyampaikan pesan Tuhan bahwa Tuhan telah berjanji untuk melindungi mereka (Hag 1:13).
  2. Sebulan kemudian, penilaian beberapa orang buangan yang telah kembali mematahkan semangat mereka, yaitu mereka yang telah melihat kemuliaan bait Salomo sehingga menilai usaha membangun kembali itu tidak berarti jika dibandingkan (Hag 2:3). Hagai menasihati para pemimpin untuk meneguhkan hatinya karena

    • usaha mereka merupakan bagian dari gambaran nubuat yang lebih luas (Hag 2:4-8) dan
    • "kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula" (Hag 2:9).

  3. Berita Hagai yang ketiga, yang memanggil umat itu untuk hidup dalam ketaatan kudus (Hag 2:11-14).
  4. Berita yang keempat (Hag 2:21-23) diberitakan pada hari yang sama. Berita keempat menubuatkan bahwa Zerubabel melambangkan kesinambungan keturunan dan janji Mesias (Hag 2:23).

Pelajaran dari Hagai Pasal 1

“Prioritas hidup yang salah dapat didiagnosa”
Hagai memarahi bangsa Israel karena menunda-nunda pembangunan kembali Bait Suci (1:4).
"Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
Di 1:5, Hagai berkata:
Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu!
Hagai memarahi mereka karena salah meletakkan prioritas. Mereka tidak mengutamakan Tuhan dan lebih mementingkan kenyamanan mereka sendiri.
Apakah akibat salah meletakkan prioritas hidup kita? Apakah gejala-gejalanya?

Gejala Pertama: Ketidakpuasan (1:6)
Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!

Gejala Kedua: Hukuman (1:9-11)
Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? Demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.
Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya,
dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.
"

Jawaban umat Israel (1:12-14)
Lalu Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak, imam besar, dan selebihnya dari bangsa itu mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan juga perkataan nabi Hagai, sesuai dengan apa yang disuruhkan kepadanya oleh TUHAN, Allah mereka; lalu takutlah bangsa itu kepada TUHAN.
Maka berkatalah Hagai, utusan TUHAN itu, menurut pesan TUHAN kepada bangsa itu, demikian: "Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN."
TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka,


Empat aspek untuk mengatasi masalah:

  • Firman Tuhan (1:12)
  • Menyembah Tuhan sehingga Tuhan dapat membina persekutuan dengan umat-Nya (1:13)
  • Roh Kudus (1:14a)
  • Umat Tuhan (1:14b)

Kesimpulan

Salah meletakkan prioritas hidup kita dapat didiagnosa melalui adanya ketidakpuasan dalam hidup kita dan hukuman dari Tuhan. Salah prioritas hidup dapat disembuhkan melalui pengetahuan dan pengertian akan firman Tuhan, memuji dan memuliakan Tuhan, Roh Kudus, dan berinteraksi dalam komunitas sesama umat Tuhan. Hasilnya adalah hidup bahagia dan memuaskan dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan.

Prinsip-Prinsip dari Hagai Pasal 1

  1. Pekerjaan dari Tuhan tidak boleh ditunda-tunda (1:3)
  2. Prioritas hidup yang salah menghambat pekerjaan Tuhan (1:4,9)
  3. Tujuan pekerjaan Tuhan adalah kemuliaan-Nya dan untuk menyenangkan hati-Nya (1:8)
  4. Kadang-kadang Tuhan menggunakan bencara alam untuk menghukum umat (1:6,10,11)
  5. Ketaatan dan hormat akan Tuhan adalah syarat untuk mendapatkan berkat (1:12-14)
  6. Tidak pernah terlambat untuk mulai taat akan Tuhan (1:12-15)

Sumber

No comments: