Saturday, February 16, 2008

Smart Subsidi Rp 90 Miliar untuk Ponsel 1900 MHz

Sumber: Detikinet

Jumat, 15/02/2008 19:11 WIB
Smart Subsidi Rp 90 Miliar untuk Ponsel 1900 MHz
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Smart Telecom merogoh US$ 9 juta atau hampir Rp 90 miliar untuk memberikan subsidi pengadaan ponsel CDMA yang bisa beroperasi di frekuensi 1900 MHz.

Deputy CEO Smart Telecom, Djoko Tata Ibrahim menjelaskan, subsidi tersebut terpaksa dilakukan pihaknya karena minimnya ketersediaan ponsel 1900 MHz yang beredar di pasaran.

"Kami memberikan subsidi 50% untuk setiap ponsel CDMA bundling yang kami lempar di pasaran demi memudahkan pelanggan kami," ujarnya, di sela peluncuran program bundling kartu perdana Smart dengan Haier, yang berlangsung di kantor pusat Smart -- Jakarta -- Jumat (15/2/2008).

Lebih lanjut, ia menyebutkan, program bundling sengaja dilakukan karena mayoritas pelanggan Smart atau sekitar 80 persennya menggunakan ponsel bundling menggunakan operator seluler tersebut.

Sampai akhir januari 2008, layanan seluler Smart diklaim telah memiliki 500 ribu pelanggan, dimana 40 persen diantaranya berdomisili di Jakarta. Hingga paruh pertama 2008 ini, Smart mengharapkan mampu menembus 1 juta pelanggan seiring diluncurkannya program bundling CDMA tersebut.

"Hingga akhir tahun nanti kami menargetkan 3 juta pelanggan seiring telah beroperasinya layanan kami di Bali, Kalimantan dan Sulawesi," tukas Djoko.

Smart sendiri sampai saat ini masih berkutat di Pulau Jawa. Dalam menyediakan layanan selulernya, Smart telah memiliki sebanyak 1200 infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) di Jawa. Di pulau ini sendiri, Smart menargetkan memiliki 1700 BTS hingga akhir tahun. Jadi jumlah totalnya ditambah dengan yang ada di luar Jawa mencapai 3000 BTS di akhir 2008.

Lebih lanjut Djoko mengungkapkan, dari 1000 BTS pertama yang digunakan untuk melayani pelanggannya, 90 persennya itu milik sendiri, sedangkan sisanya sewa. Kemudian, untuk 2000 BTS selanjutnya, ia berharap komposisinya akan lebih banyak pada co-location (sharing BTS), dimana komposisinya 65 persen sewa atau menara bersama dan 35 persennya bangun sendiri.

Khusus untuk infrastruktur BTS sendiri, Smart mengalokasikan sepertiga dari capital expenditure (capex) tahun ini yang mencapai US$ 350 juta, sedangkan dua pertiga sisanya untuk pengembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi lainnya. ( ash / ash )

Smart mesti kerja keras mati-matian supaya balik modal. Berhubung semua operator CDMA yang lain sudah bermain di frekuensi 800 MHz, sepertinya Smart harus terus-menerus memberikan subsidi handset melalui program bundling handset + kartu perdana Smart. Kalau tidak, konsumen bakal bosan dengan minimnya pilihan handset di frekuensi 1900 MHz. Sekarang ini, sepengetahuan saya, sudah tidak ada lagi handset 1900 MHz yang dijual di pasaran.

No comments: