Wednesday, February 06, 2008

Xin Tjia

Imlek atau Xin Tjia adalah perayaan tahun baru yang biasa dilakukan oleh para petani di Cina. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh.

Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Pesta Imlek juga biasa dirayakan dengan berbagai atraksi seperti barongsai dan kembang api.

Orang Kristiani, terutama dari keturunan Tionghoa, seringkali mengalami dilema ketika merayakan Imlek, antara mempertahankan adat atau imanya. Karena, dalam perayaan Imlek mengandung beberapa aspek agamawi yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, antara lain penyembahan terhadap lelulur yang telah mati, dewa-dewi, kepercayaan pada shio dan fengshui (bahwa kebahagiaan dapat dicapai karena unsur-unsur alam) dan kepercayaan bahwa manusia dapat selamat melalui usaha sendiri dengan pengorbanan darah (Sam Seng atau Ngo Seng) atau bantuan dewa-dewi.

Tidak kehilangan identitas

Kita harus sadar bahwa selain unsur negatif, perayaan Imlek juga mengandung unsur-unsur positif yang bisa diikuti, seperti misalnya berkumpul bersama keluarga, sangat positif untuk menjalin dan memperkokoh ikatan kekeluargaan.

Demikian juga dengan pemberian angpao, menjadi hal yang positif sebagai sikap memberkati. Namun demikian, sebagai manusia yang dilahirkan baru di dalam Kristus kita tetap harus dapat menunjukkan identitias kekristenan kita.

Kita tidak boleh menduakan dan mendukakan Tuhan atau mencampuradukkan ajaran nenek moyang dengan iman Kristen.

Pada suatu kesempatan, Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita tidak bisa menyembah pada dua tuan. Hal ini berarti kita harus memilih salah satu di antaranya. Dan saya harap Anda memilih Yesus sebagai jawaban. Karena, hanya di dalam nama Yesus ada keselamatan kekal di Sorga.

Dalam hal adat-istiadat Tuhan Yesus pernah mengingatkan "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padalah hatinya jauh dari padaKu. Percuma mreka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." (Mrk. 7: 6-8). Rasul Paulus juga menulis: "Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus." (Kol. 2:8).

Dari ayat-ayat tersebut kita perlu merenungkan kembali, apakah perintah Allah dan pribadi Kristus sudah benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita ataukan kita hanya menjadi seorang kristen agamawi. Disinilah letak pentingnya seorang kristen untuk terus menerus didewasakan dalam imannya.

Mungkin kita dahulu juga adalah penyembah berhala, tetapi ketika sudah berada di salam Kristus kita adalah ciptaan baru yang harus hidup seturut dengan iman dan Firman Tuhan.

Menghadiri perayaan-perayaan Imlek, menonton barongsai dan makan makanan Imlek pada prinsipnya tidak apa-apa, tetapi harus berhikmat, dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh supaya tidak menjadi batu sandungan bagi iman orang lain. Rasul Paulus dan tulisannya mengingatkan dengan tegas agar "kebebasan kita yang kuat jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah." (1 Kor. 8:9).

Jadi terang

Menghindari atau menjauhi perayaan Imlek bisa jadi kurang tepat dan kurang bijaksana malah bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk mengenal kasih Kristus. Sebaliknya, perayaan Imlek dapat menjadi salah satu sarana yang baik untuk bersaksi tentang kasih Kristus.

Daripada menghindari lebih baik menghadiri tetapi dengan memberi nuansa yang tidak meninggalkan nilai-nilai iman kristiani. Salah satu contohnya, kita tidak lagi ikut-ikutan menyembah arwah nenek moyang tetapi tetap rukun dengan keluarga yang masih hidup dan memberi pengertian kepada mereka tentang iman yang kita percayai. Dengan demikian kita menyatakan bahwa umat kristiani menghormati orang tua yang masih hidup, dan menunjukkan bahwa menghormati yang sudah mati tidak akan mengubah apa-apa.

Memberi angpao dengan tulus kita juga bisa menjadi sarana untuk bersaksi bahwa umat kristiani wajib memberkati karena telah diberkati oleh Tuhan lebih dahulu.

Kedua, umat kristiani dapat bersaksi bahwa Tuhan sudah mengaruniakan Roh Kudus yang berkuasa di dalam diri orang percaya untuk menuntun kepada hidup yang sejati. Roh-roh dunia sudah dikalahkan oleh kematian Kristus di kayu salib. Oleh karena itu, menyembah roh-roh demikian adalah sia-sia.

Ketiga, keselamatan tidak tergantung dewa-dewi, warna tertentu (merah) atau benda-benda di dunia, dan lain-lain melainkan karena Kristus yang telah menebus kita dengan darahnya di atas kayu salib.

Kasih sukacita dalam Kristus seperti inilah yang perlu disaksikan kepada orang tua dan saudara-saudara, supaya ketika mereka melihat perbuatan kita yang baik dapat memuliakan Allah Bapa di Surga.

"Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." (Kol. 2: 6-7). Tuhan Yesus memberkati. (ag/bbrp sumber)

Sumber: Warta Gereja Mawar Sharon, 3 Februari 2008

No comments: