Sunday, May 04, 2008

Surat dari Pdt. Philip Mantofa, BRE (Surabaya)

Sahabat …

Tanggal 1 Januari 2000 pukul 05:00 pagi, saya berada di suatu daerah gurun pasir yang luas, tandus kering-kerontang. Udara terasa berat, panas terik sangat menyengat.
Saya melihat banyak binatang aneh dan menjijikkan yang tak pernah saya temui sebelumnya. Saya berjalan setapak demi setapak melewati gurun itu hingga sampai pada suatu tempat yang menyeramkan!

Perasaan aneh melingkupi saya, rasa sakit menjalar di tulang-tulang saya. Suasana sangat sunyi mencekam. Tak ada sedikitpun angin berhembus. Mendung kelam menyelimuti daerah itu. Saya tak bisa menggambarkannya lebih baik lagi dengan kata-kata … karena hanya kengerian yang ada di sana … !

Sebuah pintu gerbang menjulang di hadapan saya. Dengan gelisah namun ingin tahu saya mencoba membuka gerbang itu. Tidak cukup sulit untuk dibuka. Saya masuk dan tersentak, ternyata masih ada sebuah pintu gerbang lagi, … menjulang dan mengerikan dengan palang bertuliskan VALLEY OF TORTURE!!! (Lembah Penyiksaan)

Terbersit keraguan di hati saya, haruskah saya melanjutkan ‘perjalanan’ ini atau tidak, tetapi ada sesuatu yang kuat mendorong saya untuk meneruskannya.
Degup jantung saya begitu keras seakan saya dapat mendengarnya saat saya membuka gerbang berikutnya dan … oh Tuhan!! Saya tidak percaya … saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat … tetapi itulah kenyataannya!

Di hadapan saya terbentang suatu lorong yang diliputi oleh kegelapan. Saya berdiri di pinggir pintu gerbang dan saya tidak bisa memperkirakan seberapa luas dan panjang lorong itu. Saya melihat asap samar-samar membumbung pada ujungnya. Saya merasa itu adalah lautan api yang sangat dahsyat!

Di sepanjang lorong yang gelap itu saya melihat banyak orang disiksa oleh makhluk-makhluk berpakaian hitam dan bertanduk kepalanya. Saya melihat makhluk-makhluk itu sangat bernafsu menyiksa orang yang ada di sana sebelum mereka semua dimasukkan dalam lautan api di ujung lorong. Saya mendengar tangisan yang memilukan serta erangan kesakitan bercampur dengan suara tawa yang menjijikkan di tempat yang sangat kotor tersebut.

Di tepi lorong, seorang wanita muda dengan tangan terikat pada sebuah kayu, dikelilingi banyak makhluk bertanduk yang mengejek serta mentertawakannya. Saya memandang wajahnya yang sudah putih pucat itu diliputi ketakutan yang amat sangat. Di depan matanya mengayun-ayun sebuah senjata berbentuk aneh yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Saya tak tahu apa itu, tapi bentuknya semacam garpu penggaruk dengan mata pisau yang amat tajam. Senjata itu dibawa oleh salah satu iblis bertanduk yang sedang mengerubuti wanita itu.
Saya mendengar iblis itu mengancam wanita malang yang ketakutan itu. “Ayo berdusta!!! Ayo berdusta!!!”
Saya lihat wanita muda itu makin ketakutan. Dia sudah sepenuhnya jatuh dalam kuasa para iblis bertanduk itu sehingga ia mau menuruti kemauan mereka. Wanita itu menjawab, “Ya! Ya! Aku berdusta! Aku berdusta!!”

Para iblis itu tertawa terbahak-bahak. Kelihatannya mereka pusa dengan jawaban wanita muda itu. Saya menyangka setelah wanita itu menuruti apa yang mereka mau, ia akan dilepaskan. Tapi apa yang terjadi kemudian mengagetkan saya! Iblis itu malah menyorongkan benda mengerikan itu ke dalam wajahnya! Darah segar menyembur keluar! Saya merasa ngeri! Wajahnya tak berbentuk lagi dan teriakan kesakitannya begitu menyayat hati!

“Stop! Hentikaaan!!” saya berteriak.
Tapi aneh, mereka tidak mendengar suara saya, bahkan tampaknya kehadiran saya sama sekali tak terlihat oleh mereka!

Saya merasa jijik dan muak melihat semuanya itu, tetapi ternyata masih banyak pemandangan lain yang lebih mengejutkan menanti saya!

Berikutnya saya lihat seorang laki-laki dengan rambut hangus, wajahnya tinggal tengkorak yang membusuk. Dari rongga-rongga tengkoraknya keluar ulat-ulat yang tak dapat terbakar oleh api. Laki-laki tersebut diusung dari ujung lorong yang dekat dengan api, saya merasa mereka telah lama menyiksa orang itu. Tubuhnya hangus dan dagingnya meleleh karena diletakkan dekat api yang tak terhingga panasnya!

Iblis-iblis pengusungnya tertawa mengejek dia. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah dengan keadaannya. Ia sekarat tapi tak bisa mati. Ia kelihatan seperti sedang merasakan kesakitan yang luar biasa. Mulutnya megap-megap seakan memohon belas kasihan. Seorang dari iblis-iblis itu berteriak, “Ayo masturbasi!! Ayo masturbasi!!!” Pria itu menjawab dengan bergetar, “Ya, aku masturbasi … aku masturbasi!! … Aaahhhh!” Pria itu menjerit, dari sekujur tubuhnya keluar banyak ulat … sangat banyak!!
Saya merasa jijik melihatnya, apalagi mendengar jeritannya … begitu ngeri!!

Masih banyak lagi teriakan dan perintah-perintah yang saya dengar. “Ayo minum! Ayo mabuk!” “Ayo judi!” “Ayo menipu!”, dan para iblis itu tertawa-tawa menikmati erangan serta tangisan seolah-olah mereka sedang mendengar alunan musik yang indah. Saya tidak berani berjalan masuk lebih dalam lagi, saya hanya melihat sejauh mata memandang dan saya yakin masih banyak lagi jenis-jenis penyiksaan yang dilakukan di lorong yang lebih pas disebut barak penyiksaan itu.

Saya menemukan suatu pemandangan yang sangat mengagetkan, banyak orang saleh dan beragama di sana!!!
Saya tak percaya tapi tak berkuasa untuk menyangkal apa yang saya lihat. Saya mendengar teriakan mereka saat disiksa. Mereka berteriak menyebut nama Tuhan, “Tuhan tolong aku!” “Tuhan bukankah aku selalu bersama dengan Engkau?!” “Engkau mengajar di kota-kota kami!” “Aku melayani Engkau Tuhan!!”

Mereka berteriak memohon-mohon pada Tuhan tetapi kesempatan itu sudah tertutup bagi mereka, sampai akhirnya saya mendengar mereka menghujat Tuhan! Hancur hati saya melihat hal ini!

Setelah itu saya benar-benar berada di puncak kengerian yang amat sangat. Saya tak kuat lagi melanjutkan ‘perjalanan’ ini, dan jika dilanjutkan kemungkinan besar saya akan benar-benar mati! “Tuhan …” teriakku “Tolong saya untuk keluar dari sini! Tolong Tuhan!! … Seketika itu juga saya … saya tersadar! Semua yang terjadi tadi adalah sebuah vision, sebuah penglihatan … penglihatan yang amat mengerikan … penglihatan tentang neraka!!!
Saya senang mendapati diri saya berada di rumah, walau setelah itu saya mengalami sakit berhari-hari. Seluruh tulang dan persendian saya ngilu, maag saya kumat dan shock terus membayangi saya berhari-hari.

Saya berdoa kepada Tuhan dan bertanya, apa arti semua itu, apa yang Ia inginkan dengan pengalaman saya itu. Tuhan memberi saya pengertian dan beban yang amat mendalam bagi orang-orang di sekitar saya. Tuhan ingin saya memberitahukan apa yang telah dan akan terjadi pada semua orang. Banyak dari mereka sedang bersenang-senang, makan minum, pesta pora, sex bebas, narkoba dan banyak kesenangan lain yang seolah mereka bisa nikmati selamanya. Mereka tidak sadar bahwa neraka dan iblis-iblis bertanduk sedang menanti mereka. Mereka adalah mangsa berikutnya.!

Saya tahu, Tuhan Yesus sangat mengasihimu.
‘Penglihatan’ yang telah ditunjukkan pada saya membuktikan bahwa Ia masih memberimu kesempatan untuk bertobat.

Sahabatku, saya harus menulis surat ini padamu untuk memperingatkanmu. Saya tidak mau engkau mengalami hal yang sama dengan mereka yang ada di sana. Sungguh, saya mengasihimu dan harapan saya adalah supaya engkau merenungkan semua ini dan benar-benar bertobat. Terimalah Tuhan Yesus sebagai Juruselamatmu secara pribadi, mulailah hidup yang baru dan jangan keluar dari jalan yang telah Tuhan Yesus tetapkan.

Saya menyelipkan sebuah undangan khusus untukmu, dan saya harap engkau mau datang dalam acara ini, kita akan bertemu di sana.
Sahabat, saya akhiri surat ini, saya selalu berdoa untukmu dan saya nantikan kehadiranmu.
Tuhan memberkatimu!

Sahabatmu, Philip Mantofa

1 comment:

Anonymous said...

Thx God bagi ko philip. sy melayani bertahun - tahun sejak bertobat 17 th lalu, bahkan sampai bayak orang dibawa Tuhan melihat neraka dalam pelayaanan saya ketika mereka dilawat Tuhan, ribuan orang bertobat, ratusan disembuhkan secara rohani & fisik namun saya sendiri terus jatuh bangun dalam dosa pornografi, mohon masukan dari ko philip atau siapapun yang sungguh ingin menolong saya. Saya dalam keadaan desprate memohon Tuhan melepaskan saya karena visi besar yang Tuhan berikan menjadi beban bagi saya sementara saya terus dipakaiNya membebaskan orang yang terikat, saya sndiri terikat..........